Teknik Cara Budidaya PISANG ( Musa spp) Lengkap

Teknik Cara Budidaya PISANG ( Musa spp) Lengkap - Untuk artikel tentang PEDOMAN TEKNIK MENANAM PISANG akan disampaikan peta halamannya adalah sebagai berikut:

Peta Halaman Teknik Cara Budidaya Pisang (Musa spp) Lengkap :
1. Sejarah Singkat Pisang
2. Jenis Tanaman Pisang
3. Manfaat Tanaman Pisang
4. Sentra Penanaman Pisang
5. Syarat Tumbuh Tanaman Pisang
6. Pedoman Budidaya Pisang
7. Hama dan Penyakit Tanaman Pisang
8. Panen Pisang
9. Pascapanen Pisang
10. Analisis Ekonomi Budidaya Tanaman Pisang
11. Standar Produksi Pisang
12. Daftar Pustaka

Teknik Cara Budidaya PISANG ( Musa spp) Lengkap

Teknik Cara Budidaya PISANG ( Musa spp) Lengkap
Teknik Cara Budidaya PISANG ( Musa spp) Lengkap

1. SEJARAH SINGKAT PISANG

Pisang adalah tanaman buah berupa  herba  yg berasal dari  kawasan di  Asia  Tenggara  (termasuk Indonesia). Tanaman ini  kemudian menyebar ke Afrika  (Madagaskar), Amerika  Selatan & Tengah. Di  Jawa  Barat, pisang disebut dgn Cau, di  Jawa  Tengah & Jawa  Timur dinamakan gedang.

2. JENIS TANAMAN PISANG

Klasifikasi  botani  tanaman pisang adalah sbg berikut:
Divisi
: Spermatophyta
Sub Divisi
: Angiospermae
Kelas
: Monocotyledonae
Keluarga
: Musaceae
Genus
: Musa
Species
: Musa  spp.

Jenis pisang dibagi  menjadi:
1)
Pisang yg dimakan buahnya  tanpa  dimasak yaitu M. paradisiaca  var Sapientum, M. nana  atau disebut juga  M. cavendishii, M. sinensis.
Misalnya  pisang ambon, susu, raja, cavendish, barangan & mas.
2)
Pisang yg dimakan setelah buahnya  dimasak yaitu M. paradisiaca  forma  typicaatau disebut juga  M. paradisiaca  normalis.
Misalnya  pisang nangka, tanduk & kepok.
3)
Pisang berbiji  yaitu M. brachycarpa  yg di  Indonesia  dimanfaatkan daunnya.
Misalnya  pisang batu & klutuk.
4)
Pisang yg diambil seratnya  misalnya  pisang manila  (abaca).

3. MANFAAT TANAMAN PISANG
Pisang adalah buah yg sangat bergizi  yg merupakan sumber vitamin, mineral & juga  karbohidrat. Pisang dijadikan buah meja, sale pisang, pure pisang & tepung pisang. Kulit pisang dpt dimanfaatkan utk membuat cuka  melalui  proses fermentasi  alkohol & asam cuka. Daun pisang dipakai  sebagi  pembungkus berbagai  macam makanan trandisional Indonesia.

Batang pisang abaca  diolah menjadi  serat utk pakaian, kertas dsb. Batang pisang yg telah dipotong kecil & daun pisang dpt dijadikan makanan ternak ruminansia  (domba, kambing) pada  saat musim kemarau dimana  rumput tidak/kurang tersedia.

Secara  tradisional, air umbi  batang pisang kepok dimanfaatkan sbg obat disentri  & pendarahan usus besar sedangkan air batang pisang digunakan sbg obat sakit kencing & penawar racun.


4. SENTRA PENANAMAN PISANG
Hampir di  setiap tempat dpt dgn mudah ditemukan tanaman pisang. Pusat produksi  pisang di  Jawa  Barat adalah Cianjur, Sukabumi  & daerah sekitar Cirebon. tdk diketahui  dgn pasti  berapa  luas perkebunan pisang di  Indonesia. Walaupun demikian Indonesia  termasuk salah satu negara  tropis yg memasok pisang segar/kering ke Jepang, Hongkong, Cina, Singapura, Arab, Australia, Negeri  Belanda, Amerika  Serikat & Perancis. Nilai  ekspor tertinggi  pada  tahun 1997 adalah ke Cina.

5. SYARAT TUMBUH PISANG
5.1.
Iklim
1.
Iklim tropis basah, lembab & panas mendukung pertumbuhan pisang. Namun demikian pisang masih dpt tumbuh di  daerah subtropis. Pada  kondisi  tanpa  air, pisang masih tetap tumbuh karena  air disuplai  dari  batangnya  yg berair tetapi  produksinya  tdk dpt diharapkan.
2.
Angin dgn kecepatan tinggi  seperti  angin kumbang dpt merusak daun & mempengaruhi  pertumbuhan tanaman.
3.
Curah hujan optimal adalah 1.520–3.800 mm/tahun dgn 2 bulan kering. Variasi  curah hujan harus diimbangi  dgn ketinggian air tanah agar tanah tdk tergenang.
5.2.
Media  Tanam
1.
Pisang dpt tumbuh di  tanah yg kaya  humus, mengandung kapur atau tanah berat. Tanaman ini  rakus makanan shg  sebaiknya  pisang ditanam di  tanah berhumus dgn pemupukan.
2.
Air harus selalu tersedia  tetapi  tdk boleh menggenang karena  pertanaman pisang harus diari  dgn intensif. Ketinggian air tanah di  daerah basah adalah 50 - 200 cm, di  daerah setengah basah 100 - 200 cm & di  daerah kering 50 - 150 cm. Tanah yg telah mengalami  erosi  tdk akan menghasilkan panen pisang yg baik. Tanah harus mudah meresapkan air. Pisang tdk hidup pada  tanah yg mengandung garam 0,07%.
5.3.
Ketinggian Tempat
Tanaman ini  toleran akan ketinggian & kekeringan. Di  Indonesia  umumnya  dpt tumbuh di  dataran rendah sampai  pegunungan setinggi  2.000 m dpl. Pisang ambon, nangka  & tanduk tumbuh baik sampai  ketinggian 1.000 m dpl

6. PEDOMAN BUDIDAYA PISANG
6.1.
Pembibitan
Pisang diperbanyak dgn cara  vegetatif berupa  tunas-tunas (anakan).
  1. Persyaratan Bibit
    Tinggi  anakan yg dijadikan bibit adalah 1-1,5 m dgn lebar potongan umbi  15-20 cm. Anakan diambil dari  pohon yg berbuah baik & sehat. Tinggi  bibit akan berpengaruh terhadap produksi  pisang (jumlah sisir dalam tiap tandan). Bibit anakan ada  dua  jenis: anakan muda  & dewasa. Anakan dewasa  lebih baik digunakan karena  sudah mempunyai  bakal bunga  & persediaan makanan di  dalam bonggol sudah banyak. Penggunaan bibit yg berbentuk tombak (daun masih berbentuk seperti  pedang, helai  daun sempit) lebih diutamakan daripada  bibit dgn daun yg lebar.
  2. Penyiapan Benih
    Bibit dpt dibeli  dari  daerah/tempat lain atau disediakan di  kebun sendiri. Tanaman utk bibit ditanam dgn jarak tanam agak rapat sekitar 2 x 2 m. Satu pohon induk dibiarkan memiliki  tunas antara  7-9. utk menghindari  terlalu banyaknya  jumlah tunas anakan, dilakukan pemotongan/penjarangan tunas.
  3. Sanitasi  Bibit Sebelum Ditanam
    Untuk menghindari  penyebaran hama/penyakit, sebelum ditanam bibit diberi
    perlakuan sbg berikut:
a)
Setelah dipotong, bersihkan tanah yg menempel di  akar.
b)
Simpan bibit di  tempat teduh 1-2 hari  sebelum tanam agar luka  pada  umbi  mengering. Buang daun-daun yg lebar.
c)
Rendam umbi  bibit sebatas leher batang di  dalam insektisida  0,5–1% selama  10 menit. Lalu bibit dikeringanginkan.
d)
Jika  tdk ada  insektisida, rendam umbi  bibit di  air mengalir selama  48 jam.
e)
Jika  di  areal tanam sudah ada  hama  nematoda, rendam umbi  bibit di  dalam air panas beberapa  menit.
6.2.
Pengolahan Media  Tanam
  1. Pembukaan Lahan
    Pemilihan lahan harus mempertimbangkan aspek iklim, prasarana  ekonomi  & letak pasar/industri  pengolahan pisang, juga  harus diperhatikan segi  keamanan sosial.
    Untuk membuka  lahan perkebunan pisang, dilakukan pembasmian gulma, rumput atau semak-semak, penggemburan tanah yg masih padat; pembuatan sengkedan & pembuatan saluran pengeluaran air.
  2. Pembentukan Sengkedan
    Bagian tanah yg miring perlu disengked (dibuat teras). Lebar sengkedan tergantung dari  derajat kemiringan lahan. Lambung sengkedan ditahan dgn rerumputan atau batu-batuan jika  tersedia. Dianjurkan utk menanam tanaman legum seperti  lamtoro di  batas sengkedan yg berfungsi  sbg penahan erosi, pemasuk unsur hara  N & juga  penahan angin.
  3. Pembuatan Saluran Pembuangan Air
    Saluran ini  harus dibuat pada  lahan dgn kemiringan kecil & tanah-tanah datar. Di  atas landasan & sisi  saluran ditanam rumput utk menghindari  erosi  dari  landasan saluran itu sendiri.
6.3.
Teknik Penanaman
  1. Penentuan Pola  Tanaman
    Jarak tanam tanaman pisang cukup lebar shg  pada  tiga  bulan pertama  memungkinkan dipakai  pola  tanam tumpang sari/tanaman lorong di  antara  tanaman pisang. Tanaman tumpang sari/lorong dpt berupa  sayur-sayuran atau tanaman pangan semusim.
    Di  kebanyakan perkebunan pisang di  wilayah Asia  yg curah hujannya  tinggi, pisang ditanam bersama-sama  dgn tanaman perkebunan kopi, kakao, kelapa  & arecanuts. Di  India  Barat, pisang utk ekspor ditanam secara  permanen dgn kelapa.
  2. Pembuatan Lubang Tanam
    Ukuran lubang adalah 50 x 50 x 50 cm pada  tanah berat & 30 x 30 x 30 cm atau 40 x40 x 40 cm utk tanah-tanah gembur. Jarak tanam 3 x 3 m utk tanah sedang & 3,3 x 3,3 m utk tanah berat.
  3. Cara  Penanaman
    Penanaman dilakukan menjelang musim hujan (September-Oktober). Sebelum tanam lubang diberi  pupuk organik seperti  pupuk kandang/kompos sebanyak 15– 20 kg. Pemupukan organik sangat berpengaruh terhadap kualitas rasa  buah.
6.4.
Pemeliharaan Tanaman
  1. Penjarangan
    Untuk mendapatkan hasil yg baik, satu rumpun harus terdiri  atas 3-4 batang. Pemotongan anak dilakukan sedemikian rupa  shg  dalam satu rumpun terdapat anakan yg masing-masing berbeda  umur (fase pertumbuhan). Setelah 5 tahun rumpun dibongkar utk diganti  dgn tanaman yg baru.
  2. Penyiangan
    Rumput/gulma  di  sekitar pohon induk harus disiangi  agar pertumbuhan anak & juga  induk baik. Penyiangan dilakukan bersamaan dgn penggemburan & penimbunan dapuran oleh tanah agar perakaran & tunas bertambah banyak. Perlu diperhatikan bahwa  perakaran pisang hanya  rata-rata  15 cm di  bawah permukaan tanah, shg  penyiangan jangan dilakukan terlalu dalam.
  3. Perempalan
    Daun-daun yg mulai  mengering dipangkas agar kebersihan tanaman & sanitasi  lingkungan terjaga. Pembuangan daun-daun ini  dilakukan setiap waktu.
  4. Pemupukan
    Pisang sangat memerlukan kalium dalam jumlah besar. utk satu hektar, pisang memerlukan 207 kg urea, 138 kg super fosfat, 608 kg KCl & 200 kg batu kapur sbg sumber kalsium.

    Pupuk N diberikan dua  kali  dalam satu tahun yg diletakkan di  dalam larikan yg mengitari  rumpun tanaman. Setelah itu larikan ditutup kembali  dgn tanah. Pemupukan fosfat & kalium dilaksanakan 6 bulan setelah tanam (dua  kali  dalam setahun).
  5. Pengairan & Penyiraman
    Pisang akan tumbuh subur & berproduksi  dgn baik selama  pengairannya  terjaga. Tanaman diairi  dgn cara  disiram atau mengisi  parit-parit/saluran air yg berada  di  antara  barisan tanaman pisang.
  6. Pemberian Mulsa
    Tanah di  sekitar rumpun pisang diberi  mulsa  berupa  daun kering ataupun basah. Mulsa  berguna  utk mengurangi  penguapan air tanah & menekan gulma, tetapi  pemulsaan yg terus menerus menyebabkan perakaran menjadi  dangkal shg  pada  waktu kemarau tanaman merana. Karena  itu mulsa  tdk boleh dipasang terus menerus.
  7. Pemeliharaan Buah
    Jantung pisang yg telah berjarak 25 cm dari  sisir buah terakhir harus dipotong agar pertumbuhan buah tdk terhambat. Setelah sisir pisang mengembang sempurna, tandan pisang dibungkus dgn kantung plastik bening. Kantung plastik polietilen dgn ketebalan 0,5 mm diberi  lubang dgn diameter 1,25 cm. Jarak tiap lubang 7,5 cm. Ukuran kantung plastik adalah sedemikian rupa  shg  menutupi  15-45 cm di  atas pangkal sisir teratas & 25 cm di  bawah ujung buah dari  sisir terbawah. utk menjaga  agar tanaman tdk rebah akibat beratnya  tandan, batang tanaman disangga  dgn bambu yg dibenamkan sedalam 30 cm ke dalam tanah.
7. HAMA & PENYAKIT PISANG
7.1.
Hama
1.
Ulat daun (Erienota  thrax.)
Bagian yg diserang adalah daun.
Gejala: daun menggulung seperti  selubung & sobek hingga  tulang daun.
Pengendalian: dgn menggunakan insektisida  yg cocok belum ada, dpt dicoba  dgn insektisida  Malathion.
2.
Uret kumbang (Cosmopolites sordidus)
Bagian yg diserang adalah kelopak daun, batang.
Gejala: lorong-lorong ke atas/bawah dalam kelopak daun, batang pisang penuh lorong.
Pengendalian: sanitasi  rumpun pisang, bersihkan rumpun dari  sisa  batang pisang, gunakan bibit yg telah disucihamakan.
3.
Nematoda  (Rotulenchus similis, Radopholus similis).
Bagian yg diserang adalah akar.
Gejala: tanaman kelihatan merana, terbentuk rongga  atau bintik kecil di  dalam akar, akar bengkak.
Pengendalian: gunakan bibit yg telah disucihamakan, tingkatkan humus tanah & gunakan lahan dgn kadar lempung kecil.
4.
Ulat bunga  & buah (Nacoleila  octasema.)
Bagian yg diserang adalah bunga  & buah.
Gejala: pertumbuhan buah abnormal, kulit buah berkudis. Adanya  ulat sedikitnya  70 ekor di  tandan pisang.
Pengendalian: dgn menggunakan insektisida.
7.2.
Penyakit
1.
Penyakit darah
Penyebab: Xanthomonas celebensis (bakteri). Bagian yg diserang adalah jaringan tanaman bagian dalam.
Gejala: jaringan menjadi  kemerah-merahan seperti  berdarah.
Pengendalian: dgn membongkar & membakar tanaman yg sakit.
2.
Panama
Penyebab: jamur Fusarium oxysporum. Bagian yg diserang adalah daun.
Gejala: daun layu & putus, mula-mula  daun luar lalu daun di  bagian dalam, pelepah daun membelah membujur, keluarnya  pembuluh getah berwarna  hitam.
Pengendalian: membongkar & membakar tanaman yg sakit.
3.
Bintik daun
Penyebab: jamur Cercospora  musae. Bagian yg diserang adalah daun dgn gejala  bintik sawo matang yg makin meluas.
Pengendalian: dgn menggunakan fungisida  yg mengandung Copper oksida  atau Bubur Bordeaux
(BB).
4.
Layu
Penyebab: bakteri  Bacillus . Bagian yg diserang adalah akar.
Gejala: tanaman layu & mati.
Pengendalian: membongkar & membakar tanaman yg sakit.
5.
Daun pucuk
Penyebab: virus dgn perantara  kutu daun Pentalonia  nigronervosa. Bagian yg diserang adalah daun pucuk.
Gejala: daun pucuk tumbuh tegak lurus secara  berkelompok.
Pengendalian: cara  membongkar & membakar tanaman yg sakit.
7.3.
Gulma
Tidak lama  setelah tanam & setelah kanopi  dewasa  terbentuk, gulma  akan menjadi  persoalan yg harus segera  diatasi. Penanggulangan dilakukan dengan:
1.
Penggunaan herbisida  seperti  Paraquat, Gesapax 80 Wp, Roundup & dalapon.
2.
Menanam tanaman penutup tanah yg dpt menahan erosi, tahan naungan, tdk mudah diserang hama-penyakit, tdk memanjat batang pisang. Misalnya  Geophila  repens.
3.
Menutup tanah dgn plastik polietilen.

8. PANEN PISANG
8.1.
Ciri  & Umur Panen
Pada  umur 1 tahun rata-rata  pisang sudah berbuah. Saat panen ditentukan oleh umur buah & bentuk buah. Ciri  khas panen adalah mengeringnya  daun bendera. Buah yg cukup umur utk dipanen berumur 80-100 hari  dgn siku-siku buah yg masih jelas sampai  hampir bulat. Penentuan umur panen harus didasarkan pada  jumlah waktu yg diperlukan utk pengangkutan buah ke daerah penjualan shg  buah tdk terlalu matang saat sampai  di  tangan konsumen. Sedikitnya  buah pisang masih tahan disimpan 10 hari  setelah diterima  konsumen.
8.2.
Cara  Panen
Buah pisang dipanen bersama-sama  dgn tandannya. Panjang tandan yg diambil adalah 30 cm dari  pangkal sisir paling atas. Gunakan pisau yg tajam & bersih waktu memotong tandan. Tandan pisang disimpan dalam posisi  terbalik supaya  getah dari  bekas potongan menetes ke bawah tanpa  mengotori  buah.
Dengan posisi  ini  buah pisang terhindar dari  luka  yg dpt diakibatkan oleh pergesekan buah dgn tanah.

Setelah itu batang pisang dipotong hingga  umbi  batangnya  dihilangkan sama  sekali. Jika  tersedia  tenaga  kerja, batang pisang bisa  saja  dipotong sampai  setinggi  1 m dari  permukaan tanah. Penyisaan batang dimaksudkan utk memacu pertumbuhan tunas.
8.3.
Periode Panen
Pada  perkebunan pisang yg cukup luas, panen dpt dilakukan 3-10 hari  sekali  tergantung pengaturan jumlah tanaman produktif.
8.4.
Perkiraan Produksi
Belum ada  standard produksi  pisang di  Indonesia, di  sentra  pisang dunia  produksi  28 ton/ha/tahun hanya  ekonomis utk perkebunan skala  rumah tangga. utk perkebunan kecil (10-30 ha) & perkebunan besar (> 30 ha), produksi  yg ekonomis harus mencapai  sedikitnya  46 ton/ha/tahun.

9. PASCA  PANEN PISANG
Secara  konvensional tandan pisang ditutupi  dgn daun pisang kering utk mengurangi  penguapan & diangkut ke tempat pemasaran dgn menggunakan kendaraan terbuka/tertutup. utk pengiriman ke luar negeri, sisir pisang dilepaskan dari  tandannya  kemudian dipilah-pilah berdasarkan ukurannya. Pengepakan dilakukan dgn menggunakan wadah karton. Sisir buah pisang dimasukkan ke dos dgn posisi  terbalik dalam beberapa  lapisan. Sebaiknya  luka  potongan di  ujung sisir buah pisang disucihamakan utk menghindari  pembusukan.

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN PISANG

10.1.
Analisis Usaha  Budidaya
Perkiraan analisis budidaya  pisang dgn luasan 1 ha  di  daerah Jawa  Barat pada  tahun 1999.

1) Biaya  produksi  1 ha  pisang dari  tahun ke-1 sampai  ke-4 adalah:
a)
Tahun ke-1
Rp. 5.338.000,-
b)
Tahun ke-2
Rp. 4.235.000,-
c)
Tahun ke-3
Rp. 4.518.000,-
d)
Tahun ke-4
Rp. 4.545.300,-

2) Penerimaan tahun ke I  sampai  IV *)
a)
Tahun ke-1: 0,8 x 1.000 tandan
Rp. 6.000.000,-
b)
Tahun ke-2: 0,8 x 2.000 tandan
Rp. 12.000.000,-
c)
Tahun ke-3: 0,8 x 2.000 tandan
Rp. 12.000.000,-
d)
Tahun ke-4: 0,8 x 2.000 tandan
Rp. 12.000.000,-

3) Keuntungan
a)
Keuntungan selama  4 tahun penanaman
Rp. 23.363.700,-
b)
Keuntungan/tahun
Rp. 5.840.925,-

4) Parameter Kelayakan Usaha
a)
Output/Input rasio
= 2,150

Keterangan : *) perkiraan harga  1 tandan Rp. 7.500,-
10.2.
Gambaran Peluang Agribisnis
Perkebunan pisang yg permanen (diusahakan terus menerus) dgn mudah dpt ditemukan di  Meksiko, Jamaika, Amerika  Tengah, Panama, Kolombia, Ekuador & Filipina. Di  negara  tersebut, budidaya  pisang sudah merupakan suatu industri  yg didukung oleh kultur teknis yg prima  & stasiun pengepakan yg modern & pengepakan yg memenuhi  standard internasional. Hal tersebut menunjukkan bahwa  pisang memang komoditas perdagangan yg sangat tdk mungkin diabaikan. Permintaan pisang dunia  memang sangat besar terutama  jenis pisang Cavendish yg meliputi  80% dari  permintaan total dunia.

Selain berpeluang dalam ekspor pisang utuh, saat ini  ekspor pure pisang juga  memberikan peluang yg baik. Pure pisang biasanya  dibuat dari  pisang cavendish dgn kadar gula  21-26 % atau dari  pisang lainnya  dgn kadar gula  < 21%.

Di  Indonesia  pisang hanya  ditanam dalam skala  rumah tangga  atau kebun yg sangat kecil. Standard internasional perkebunan pisang kecil adalah 10-30 ha. Angka  ini  belum dicapai  di  Indonesia. Tanah & iklim kita  sangat mendukung penanaman pisang, karena  itu secara  teknis pendirian perkebunan pisang mungkin dilakukan.

11. STANDAR PRODUKSI PISANG
11.1.
Ruang Lingkup
Standar ini  meliputi: klasifikasi  dan, syarat mutu, cara  pengambilan contoh, cara  uji, syarat penandaan & cara  pengemasan.
11.2.
Diskripsi
Standar buah pisang ini  mengacu kepada  SNI  01-4229-1996.
11.3.
Klasifikasi  & Standar Mutu
a)
Tingkat Ketuaan Buah (%): Mutu I=70-80; Mutu II  <70 & >80
b)
Keseragaman Kultivar: Mutu I=seragam; Mutu II=seragam
c)
Keseragaman Ukuran: Mutu I=seragam; Mutu II=seragam
d)
Kadar kotoran (% dalam bobot kotoran/bobot): Mutu I=0; Mutu II= 0
e)
Tingkat kerusakan fisik/mekanis (% Bobot/bobot): Mutu I=0; Mutu II=0
f)
Kemulusan Kulit (Maksimum): Mutu I=Mulus; Mutu II=Mulus
g)
Serangga: Mutu I=bebas; Mutu II=bebas
h)
Penyakit: Mutu I=bebas; Mutu II=bebas

Adapun persyaratan berdasarkan klasifikasi  pisang adalah sbg berikut:
a)
Panjang Jari  (cm): Kelas A  18,1-20,0; Kelas B 16,1-18,0; Kelas C 14,1-16,0
b)
Berat Isi  (kg): Kelas A  > 3,0; Kelas B 2,5-3,0; Kelas C < 2,5
c)
Dimeter Pisang (cm): Kelas A  2,5; Kelas B > 2,5; Kelas C < 2,5

Untuk mencapai  & mengetahui  syarat mutu harus dilakukan pengujian yg meliputi  :
a)
Penentuan Keseragaman Kultivar.
Cara  kerja  dari  pengujian adalah ; Hitung jumlah dari  seluruh contoh buah pisang segar, amati  satu persatu secara  visual & pisahkan buah yg tdk sesuai  dgn utk kultivar ang besangkutan. Hitung jumlah jari  buah pisang yg tdk sesuai  dgn kultivar tersebut. Hitung persentase jumlah jari  buah pisang yg dinilai  mempunyai  bentuk & warna  yg tdk khas utk kultivar yg bersangkutan terhadap jumlah jari  keseluruhannya.
b)
Penentuan Keseragaman Ukuran Buah.
Ukur panjang dari  setiap buah contoh & dihitung mulai  dari  ujung buah sampai  pangkal tangkai  dari  seluruh contoh uji  dgn menggunakan alat pengukur yg sesuai. Ukur pula  garis tengah buah dgn menggunakan mistar geser. Pisahkan sesuai  dgn penggolongan yg dinyatakan pada  label di  kemasan.
c)
Penentuan Tingkat Ketuaan.
Perhatikan sudut-sudut pada  kulit buah pisang segar. Buah yg tidsak bersudut lagi  (hampir bulat) berati  sudah tua  100%, sedangkan yg masih sangat nyata  sudutnya  berarti  tingkat ketuaan masih 70% atau kurang.
d)
Penentuan Tingkat Kerusakan Fisik/Mekanis
Hitung jumlah jari  dari  seluruh contoh buah pisang. Amati  satu persatu jari  buah secara  visual & pisahkan buah yg dinilai  mengalami  kerusakan mekanis/fisik berupa  luka  atau memar. Hitung jumlah yg rusak lalu bagi  dgn jumlah keseluruhannya  & dikalikan dgn 100%.
e)
Penentuan Kadar Kotoran
Timbang seluruh contoh buah yg diuji, amati  secara  visual kotorang yg ada, pisahkan kotoran yg ada  pada  buah & kemasannya  seperti  tanah, getah, batang, potongan daun atau benda  lain yg termasuk dalam istilah kotoran yg menempel pada  buah & kemasan, lalu timbang seluruh kotorannya. Berat kotoran per berat seluruh contoh buah yg diuji  kali  dgn 100%.
11.4.
Pengambilan Contoh
Satu partai/lot buah pisang segar terdiri  dari  maksimum 1000 kemasan. Contoh diambil secara  acak sebanyak jumlah kemasan.
a)
Jumlah kemasan dalam partai  (lot) sampai  dgn 100, contoh yg diambil 5.
b)
Jumlah kemasan dalam partai  (lot) 101 sampai  dgn 300, contoh yg diambil 7.
c)
Jumlah kemasan dalam partai  (lot) 301-500, contoh yg diambil 9.
d)
Jumlah kemasan dalam partai  (lot) 501-1000, contoh yg diambil 10.
11.5
Pengemasan
Untuk pisang tropis, kardus karton yg digunakan berukuran 18 kg atau 12 kg. Kardus dpt dibagi  menjadi  dua  ruang atau dibiarkan tanpa  pembagian ruang. Sebelum pisang dimasukkan, alasi/lapisi  bagian bawah & sisi  dalam kardus dgn lembaran plastik/kantung plastik. Setelah pisang disusun tutup pisang
dengan plastik tersebut. dpt saja  kelompok (cluster) pisang dibungkus dgn plastik lembaran/kantung plastik sebelum dimasukkan ke dalam kardus karton.
Pada  bagian luar dari  kemasan, diberi  label yg bertuliskan antara  lain:
a)
Produksi  Indonesia
b)
Nama  kultivar pisang
c)
Nama  perusahaan/ekspotir
d)
Berat bersih
e)
Berat kotor
f)
Identitas pembeli
g)
Tanggal panen
h)
Saran suhu penyimpanan/pengangkutan
12. DAFTAR PUSTAKA

1.
Rismunandar. 1990. Bertanam Pisang. C.V. Sinar Baru. Bandung
2.
Rismunandar. 1990. Membudidayakan Tanaman Buah-buahan. C.V. Sinar Baru. Bandung.
3.
Stover, R.H & N.W. Simmonads. 1993. Banana. Tropical Agriculture Series. Longman Scientific ang Technical. New York.
4.
Hendro Soenarjono. 1998. Teknik Memanen Buah Pisang agar Berkualitas Baik. Trubus no. 341.

Continue lendo >>

PASCAPANEN APEL

PASCAPANEN APEL. Berikut adalah artikel yang terkait dengan pasca panen buah apel.

PASCAPANEN APEL

PASCAPANEN APEL
PASCAPANEN APEL
Pengumpulan
Setelah dipetik, apel dikumpulkan pada tempat yg teduh & tdk terkena sinar matahari langsung agar laju respirasi berkurang sehingga didapatkan apel yang tinggi kualitas & kuantitasnya. Pengumpulan dilakukan dgn hati-hati dan jangan ditumpuk & dilempar-lempar, lalu dibawa dgn keranjang ke gudang untuk diseleksi.
 
Penyortiran & Penggolongan
Penyortiran dilakukan utk memisahkan antara buah yg baik & bebas penyakit dengan buah yg jelek atau berpenyakit, agar penyakit tdk tertular keseluruh buah yang dipanen yg dpt  menurunkan mutu produk. Penggolongan dilakukan utk mengklasifikasikan produk berdasarkan jenis varietas, ukuran & kualitas buah.
 
Penyimpanan
Pada dasarnya apel dpt disimpan lebih lama dibanding dgn buahan lain, misal Rome Beauty 21-28 hari (umur petik 113-120 hari) atau 7-14 hari (umur petik 127-141 hari). utk penyimpanan lebih lama (4-7 bulan), harus disimpan pada suhu minus 6-0 derajat C dgn precooling
  2,2 derajat C.
 
Pengemasan & Transportasi
Kemasan yg digunakan adalah kardus dgn ukuran 48 x 33 x 37 cm dengan berat 35 kg buah apel. Dasar & diatas susunan apel perlu diberi potongan kertas dan disusun miring (tangkai sejajar panjang kotak). Dasar kotak diisai 3-3 atau 2-2atau berselang 3-2 saling menutup ruang antar buah.
 

Continue lendo >>

PANEN APEL

PANEN APEL. Berikut adalah artikel yang terkait dengan panen buah apel.

PANEN APEL

PANEN APEL
PANEN APEL

Ciri & Umur Panen
Pada umumnya buah apel dpt dipanen pada umur 4-5 bulan setelah bunga mekar, tergantung pada varietas & iklim. Rome Beauty dpt dipetik pada umur sekitar 120-141 hari dr bunga mekar, Manalagi dpt dipanen pada umur 114 hari setelah bunga mekar & Anna sekitar 100 hari. Tetapi, pada musim hujan & tempat lebih tinggi, umur buah lebih panjang.
Pemanenan paling baik dilakukan pada saat tanaman mencapai tingkat masak fisiologis (ripening), yaitu tingkat dimana buah mempunyai kemampuan untuk menjadi masak  normal setelah dipanen. Ciri masak fisiologis buah adalah: ukuran buah terlihat maksimal, aroma mulai terasa, warna buah tampak cerah segar dan bila ditekan terasa kres
.
Cara Panen
Pemetikan apel dilakukan dgn cara memetik buah dgn tangan secara serempak utk setiap kebun.
 
Periode Panen
Periode panen apel adalah enam bulan sekali berdasarkan siklus pemeliharaan yang telah dilakukan.
 
Prakiraan Produksi
Produksi buah apel sangat tergantung dgn varietas, secara umum produksi apel adalah 6-15 kg/pohon.

Continue lendo >>

HAMA & PENYAKIT APEL

HAMA & PENYAKIT APEL. Berikut adalah artikel yang terkait dengan hama dan penyakit tanaman apel.

HAMA & PENYAKIT APEL

HAMA & PENYAKIT APEL
HAMA & PENYAKIT APEL
Hama
1) Kutu hijau (Aphis pomi  Geer)
Ciri : kutu dewasa berwarna hijau kekuningan, antena pendek, panjang tubuh 1,8 mm, ada yg bersayap ada pula yg tidak; panjang sayap 1,7 mm berwarna hitam; perkembangbiakan sangat cepat, telur dpt menetas dlm 3-4 hari.
Gejala : (1) nimfa maupun kutu dewasa menyerang dgn mengisap cairan sel-sel daun secara berkelompok dipermukaan daun muda, terutama ujung tunas muda, tangkai cabang, bunga, & buah; (2) kutu menghasilkan embun madu yang akan melapisi permukaan daun & merangsang tumbuhnya jamur hitam (embun jelaga); daun berubah bentuk, mengkerut, leriting, terlambat berbunga, buah-buah muda gugur,jika tdk mutu buahpun jelek.
Pengendalian : (1) sanitasi kebun & pengaturan jarak tanam (jangan terlalu rapat); (2) dgn musuh alami coccinellidae lycosa ; (3) dgn penyemprotan Supracide 40 EC (ba Metidation) dosis 2 cc/liter air atau 1-1,6 liter; (4) Supracide 40 EC dlm 500-800 liter/ha air dengan interval penyemprotan 2 minggu sekali; (5) Convidor 200 SL (b.a. Imidakloprid) dosis 0,125-0,250 cc/liter air; (6) Convidor 200 SL dlm 600 liter/ha air dgn interval penyemprotan 10 hari sekali (7) Convidor ini dpt mematikan sampai telur-telurnya; cara penyemprotan dr atas ke bawah. Penyemprotan dilakukan 1-2 minggu sebelum pembungaan & dilanjutkan 1-1,5 bulan setelah bunga mekar sampai 15 hari sebelum panen.
2) Tungau, Spinder mite, cambuk merah ( panonychus Ulmi)
Ciri : berwarna merah tua, & panjang 0,6 mm.
Gejala : (1) tungau menyerang daun dgn menghisap cairan sel-sel daun; (2) pada serangan hebat menimbulkan bercak kuning, buram, cokelat, & mengering; (3) pada buah menyebabkan bercak keperak-perakan atau coklat.
Pengendalian : (1) dengan musah alami coccinellidae  & lycosa ; (2) penyemprotan Akarisida Omite 570 EC sebanyak 2 cc/liter air atau 1 liter Akarisida Omite 570 EC dlm 500 liter air per hektar dgn interval 2 minggu.
3) Trips
Ciri : berukuran kecil dgn panjang 1mm; nimfa berwarna putih kekuning-kuningan; dewasa berwarna cokelat kehitam-hitaman; bergerak cepat & bila tersentuh akan segera terbang menghindar.
Gejala : (1) menjerang daun, kuncup/tunas, & buah yg masih sangat muda; (2) pada daun terlihat berbintik-bintik putih, kedua sisi daun menggulung ke atas & pertumbuhan tdk normal;
(3) daun pada ujung tunas mengering & gugur (4) pada daun meninggalkan bekas luka berwarna coklat abu-abu.
Pengendalian : (1) secara mekanis dengan membuang telur-telur pada daun & menjaga agar lingkungan tajuk tanaman tidk terlalu rapat; (2) penyemprotan dgn insektisida seperti Lannate 25 WP (b.a.Methomyl) dgn dosis 2 cc/liter air atau Lebaycid 550 EC (b.a. Fention) dengan dosis 2 cc/liter air pada sat tanaman sedang bertunas, berbunga, dan pembentukan buah.
4) Ulat daun ( Spodoptera litura)
Ciri : larva berwarna hijau dgn garis-garis abu-abu memanjang dr abdomen sampai kepala.pada lateral larva terdapat bercak hitam berbentuk lingkaran atau setengah lingkaran, meletakkan telur secara berkelompok & ditutupi dengan rambut halus berwarna coklat muda.
Gejala : menyerang daun, mengakibatkan lubang-lubang tdk teratur hingga tulang-tulang daun.
Pengendalian : (1) secara mekanis dgn membuang telur-telur pada daun; (2) penyemprotan dengan penyemprotan seperti Tamaron 200 LC (b.a Metamidofos) & Nuvacron 20 SCW (b.a.  Monocrotofos).
5) Serangga penghisap daun ( Helopelthis Sp)
Ciri : Helopelthis Theivora dengan abdomen warna hitam & merah, sedang HelopelthisAntonii
 dgn abdomen warna merah & putih. Serabgga berukuran kecil. Penjang nimfa yg baru menetas 1mm & panjang serangga dewasa 6-8 mm. Pada bagian thoraknya terdapat benjolan yg menyerupai jarum.
Gejala : menyerang pada pagi, sore atau pada saat keadaan berawan; menyerang daun muda, tunas & buah buah dgn cara menhisap cairan sel; daun yang terserang menjadi coklat & perkembanganya tdk simetris; tunas yang terserang menjadi coklat, kering & akhirnya mati; serangan pada buah menyebabkan buah menjadibercak-bercak coklat, nekrose, & apabila buah membesar, bagian bercak ini pecah yg menyebebkan kualitas buah menurun.
Pengendalian : (1) secara mekanis dgn cara pengerondongan atap plastik/pembelongsongan buah. (2) Penyemprotan dgn insektisida seperti Lannate 25 WP (b.a. Metomyl), Baycarb 500 EC (b.a. BPMC), yg dilakukan pada sore atau pagi hari.
6) Ulat daun hitam ( Dasychira Inclusa Walker)
Ciri : Larva mempunyai dua jambul dekat kepala berwarna hitam yg mengarah kearah samping kepala. Pada bagian badan terdapat empat jambul yang merupakan keumpulan seta berwarna coklat kehitam-hitaman. Disepanjang kedua sisi tubuh terdapat rambut berwarna ab-abu. Panjang larva 50 mm.
Gejala : menyerang daun tua & muda; tanaman yg terserang tinggal tulang daun-daunnya dgn kerusakan 30%; pada siang hari larva bersembunyi di balik daun.
Pengendalian : (1) secara mekanis dgn membuang telur-telur yang biasanya diletakkan pada daun; (2) penyemprotan insektisida seperti: Nuvacron 20 SCW (b.a. Monocrotofos) & Matador 25 EC.
7) Lalat buah ( Rhagoletis Pomonella )
Ciri:  larva tdk berkaki, setelah menetas dr telur (10 hari) dpt segera memakan daging buah. Warna lalat hitam, kaki kekuningan & meletakkan telur pada buah.
Gejala : bentuk buah menjadi jelek, terlihat benjol-benjol.
Pengendalian : (1) penyemprotan insektisida kontak seperti Lebacyd 550 EC; (2) membuat perangkat lalat jantan dgn menggunakan Methyl eugenol sebanyak 0,1 cc ditetesan pad kapas yg sudah ditetesi insektisida 2 cc. Kapas tersebutkapas tersebut dimasukkan ke botol plastik (bekas air mineral) yang digantungkan ketinggian 2 meter. Karena aroma yg mirip bau-bau yang dikeluarkan betina, maka jantan tertarik & menhisap kapas.
 
Penyakit
1) Penyakit embun tepung (Powdery Mildew)
Penyebab : Padosphaera leucotich Salm. dgn stadia imperfeknya adalah
oidium Sp.
Gejala : (1) pada daun atas tampak putih, tunas tdk normal, kerdil dan tidak berbuah; (2) pada buah berwarna coklat, berkutil coklat.
Pengendalian : (1) memotong tunas atau bagian yg sakit & dibakar; (2) dgn menyemprotka fungisida Nimrod 250 EC 2,5-5 cc/10 liter air (500liter/Ha) atau Afugan 300 EC 0,5-1 cc/liter air (pencegahan) & 1-1,5 cc/liter air setelah perompesan sampai tunas berumur 4-5 minggu dgn interval 5-7 hari.
2) Penyakit bercak daun ( Marssonina coronaria J.J. Davis )
Gejala : pada daun umur 4-6 minggu setelah perompesan terlihat bercak putih tidak teratur, berwarna coklat, permukaan atas timbul titik hitam, dimulai dr daun tua, daun muda hingga seluruh bagian gugur.
Pengendalian : (1) jarak tanam tidak terlalu rapat, bagian yg terserang dibuang & dibakar; (2) disemprot fungisida Agrisan 60 WP 2 gram/liter air, dosis 1000-2000 gram/ha sejak 10 hari
setelah rompes dgn interval 1 minggu sebanyak 10 aplikasi atau Delseme MX 200 2 gram/liter air, Henlate 0,5 gram/liter air sejak umur 4 hari setelah rompes dengan interval 7 hari hingga 4 minggu.
3) Jamur upas ( Cortisium salmonicolor Berk et Br)
Pengendalian : mengurangi kelembapan kebun, menghilangkan bagian tanaman
yang sakit.
4) Penyakit kanker ( Botryosphaeria Sp.)
Gejala : menyerang batang/cabang (busuk, warna coklat kehitaman, terkadang mengeluarkan cairan), & buah (becak kecil warna cokelat muda, busuk, mengelembung, berair & warna buah pucat.
Pengendalian : (1) tdk memanen buah terlalu masak; (2) mengurangi kelembapan kebun; (3) membuang bagian yang sakit; (4) pengerokkan batang yg sakit lalu diolesi fungisida Difolatan 4 F
100 cc/10 liter air atau Copper sandoz; (5) disemprot Benomyl 0,5 gram/liter air, Antracol 70 WP 2 gram/liter air.
5) Busuk buah ( Gloeosporium  Sp.)
Gejala : bercak kecil cokelat & bintik-bintik hitam berubah menjadi orange.
Pengendalian : tdk memetik buah terlalu masak & pencelupan dengan Benomyl 0,5 gram/liter air utk mencegah penyakit pada penyimpanan.
6) Busuk akar (Armilliaria Melea)
Gejala : menjerang tanaman apel pada daerah dingin basah, ditandai dgn layu daun, gugur, & kulit akar membusuk.
Pengendalian : dgn eradifikasi, yaitu membongkar/mencabut tanaman yg terserang beserta akar-akarnya, bekas lubang tdk ditanami minimal 1 tahun.
 

Continue lendo >>

PEDOMAN BUDIDAYA APEL

PEDOMAN BUDIDAYA APEL. Berikut adalah artikel yang terkait dengan pedoman budidaya apel.

PEDOMAN BUDIDAYA APEL

PEDOMAN BUDIDAYA APEL
PEDOMAN BUDIDAYA APEL
Pembibitan
Perbanyakan tanaman apel dilakukan secara vegetatif & generatif. Perbanyakan yang baik & umum dilakukan adalah perbanyakan vegetatif, sebab perbanyakan generatif memakan waktu lama & sering menghasilkan bibit yg menyimpang dari induknya. Teknik perbanyakan generatif dilakukan dgn biji, sedangkan perbanyakan vegetatif dilakukan dgn okulasi atau penempelan (budding), sambungan (grafting) & stek.
1) Persyaratan Benih
Syarat batang bawah: merupakan apel liar, perakaran luas & kuat, bentuk pohon kokoh, mempunyai daya adaptasi tinggi. Sedangkan syarat mata tunas adalah berasal dr batang tanaman apel yg sehat & memilki sifat-sifat unggul.
2) Penyiapan Benih
Penyiapan benih dilakukan dgn cara perbanyakan batang bawah dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a) Anakan / siwilan
1. Ciri anakan yg diambil adalah tinggi 30 cm, diameter 0,5 cm & kulit batang kecoklatan.
2. Anakan diambil dr pangkal batang bawah tanaman produktif dgn cara menggali tanah disekitar pohon, lalu anakan dicabut beserta akarnya secara berlahan-lahan & hati-hati.
3. Setelah anakan dicabut, anakan dirompes & cabang-cabang dipotong, lalu ditanam pada bedengan selebar 60 cm dgn kedalaman parit 40 cm.
b) Rundukan (layering)
1. Bibit hasil rundukan dpt diperoleh dua cara yaitu:
- Anakan pohon induk apel liar : anakan yg agak panjang direbahkan
melekat tanah, kemudian cabang dijepit kayu & ditimbun tanah;
penimbunan dilakukan tiap 2 mata; bila sudah cukup kuat, tunas dapat dipisahkan dgn cara memotong cabangnya.
- Perundukan tempelan batang bawah : dilakukan pada waktu tempelan dibuka (2 minggu) yaitu dgn memotong 2/3 bagian penampang batang bawah, sekitar 2 cm diatas tempelan; bagian atas keratan dibenamkan dalam tanah kemudian ditekuk lagi keatas. Pada tekukan diberi penjepit kayu atau bambu.
2. Setelah rundukan berumur sekitar 4 bulan, dilakukan pemisahan bakal bibit dengan cara memotong miring batang tersebut dibawah keratan atau tekukan. Bekas luka diolesi defolatan.
c) Stek
Stek apel liar berukuran panjang 15-20 cm ( diameter seragam & lurus), sebelum ditanam bagian bawah stek dicelupkan ke larutan  Roton F untuk merangsang pertumbuhan akar. Jarak penanaman 30 x 25 cm, tiap bedengan ditanami dua baris. Stek siap diokulasi pada umur 5 bulan, diameter batang ±  1 cm & perakaran cukup cukup kuat.
3) Teknik Pembiitan
a) Penempelan
1. Pilih batang bawah yg memenuhi syarat yaitu telah berumur 5 bulan, diameter batang ±  1 cm & kulit batangnya mudah dikelupas dr kayu.
2. Ambil mata tempel dr cabang atau batang sehat yg berasal dr pohon apel varietas unggul yg telah terbukti keunggulannya. Caranya adalah dengan menyayat mata tempel beserta kayunya sepanjang 2,5-5 cm (Matanya ditengah-tengah). Kemudian lapisan kayu dibuang dgn hati-hati agar matanya tdk rusak
3. Buat lidah kulit batang yg terbuka pada batang bawah setinggi ±  20 cm dari pangkal batang dgn ukuran yg disesuaikan dgn mata tempel. Lidah tersebut diungkit dr kayunya & dipotong setengahnya.
4. Masukkan mata tempel ke dlm lidah batang bawah sehingga menempel dengan baik. Ikat tempelan dgn pita plastik putih pada seluruh bagian tempelan.
5. Setelah 2-3 minggu, ikatan tempelan dpt dibuka & semprot/ kompres dengan ZPT. Tempelan yg jadi mempunyai tanda mata tempel berwarna hijau segar & melekat.
6. Pada okulasi yg jadi, kerat batang sekitar 2 cm diatas okulasi dengan posisi milintang sedikit condong keatas sedalam 2/3 bagian penampang. Tujuannya utk mengkonsentrasikan pertumbuhan sehingga memacu pertumbuhan mata tunas.
b) Penyambungan
1. Batang atas (entres) berupa cabang (pucuk cabang lateral).
2. Batang bawah dipotong pada ketinggian ±  20 cm dr leher akar.
3. Potong pucuknya & belah bagian tengah batang bawah denngan panjang 2-5 cm.
4. Cabang entres dippotong sepanjang ±  15 cm (± 3 mata), daunnya dibuang, lalu pangkal batang atas diiris berbentuk baji. Panjang irisan sama dengan panjang belahan batang bawah.
5. Batang atas disisipkan ke belahan batang bawah, sehingga kambium keduanya bisa bertemu.
6. Ikat sambungan dgn tali plastik serapat mungkin.
7. Kerudungi setiap sambungan dgn kantung plastik. Setelah berumur 2-3 minggu, kerudung plastik dpt dibuka utk melihat keberhasilan sambungan.
4) Pemeliharaan pembibitan
Pemeliharaan batang bawah meliputi
a) Pemupukan: dilakukan 1-2 bulan sekali dgn urea & TSP masing-masing 5 gram per tanaman ditugalkan  (disebar mengelilingi) di sekitar tanaman.
b) Penyiangan: waktu penyiangan tergantung pada pertumbuhan gulma. 
c) Pengairan: satu minggu sekali (bila tdk ada hujan)
d) Pemberantasan hama & penyakit: disemprotkan pestisida 2 kali tiap bulan dengan memperhatikan gejala serangan. Fungisida yg digunakan adalah Antracol atau Dithane, sedangkan insektisida adalah Supracide atau Decis. Bersama dgn ini dpt pula diberikan pupuk daun, ditambah perekat Agristic.
5) Pemindahan Bibit
Bibit okulasi grafting (penempelan & sambungan) dpt dipindahkan ke lapang pada umur minimal 6 bulan setelah okulasi, dipotong hingga tingginya 80-100 cm dan daunnya dirompes.
Pengolahan Media Tanam
1) Persiapan
Persiapan yg diperlukan adalah persiapan pengolahan tanah & pelaksanaan survai. Tujuannya utk mengetahui jenis tanaman, kemiringan tanah, keadaan tanah, menentukan kebutuhan tenaga kerja, bahan paralatan & biaya yang diperlukan.
2) Pembukaan Lahan
Tanah diolah dgn cara mencangkul tanah sekaligus membersihkan sisa-sisa tanaman yg masih tertinggal 
3) Pembentukan Bedengan
Pada tanaman apel bedeng hampir tdk diperlukan, tetapi hanya peninggian alur penanaman.
4) Pengapuran
Pengapuran bertujuan utk menjaga keseimbangan pH tanah. Pengapuran hanya dilakukan apabila ph tanah kurang dr 6.
5) Pemupukan
Pupuk yg diberikan pada pengolahan lahan adalah pupuk kandang sebanyak 20 kg per lubang tanam yg dicampur merata dgn tanah, setelah itu dibiarkan selama 2 minggu.
Teknik Penanaman
1) Penentuan Pola Tanam
Tanaman apel dpt ditanam secara monokultur maupun intercroping. Intercroping hanya dpt dilakukan apabila tanah belum tertutup tajuk-tajuk daun atau sebelum 2 tahun. Tapi pada saat ini, setelah melalui beberapa penelitian intercroping pada tanaman apel dpt dilakukan dgn tanaman yg berhabitat
rendah, seperti cabai, bawang & lain-lain. Tanaman apel tdk dpt ditanam pada jarak yg terlalu rapat karena akan menjadi sangat rimbun yg akan menyebabkan kelembaban tinggi, sirkulasi udara kurang, sinar matahari terhambat & meningkatkan pertumbuhan penyakit. Jarak tanam yg ideal utk tanaman apel tergantung varietas. utk varietas Manalagi & Prices Moble adalah 3-3.5 x 3.5 m, sedangkan utk varietas Rome Beauty & Anna dpt lebih pendek yaitu 2-3  x 2.5-3 m.
2. Pembuatan Lubang Tanam
Ukuran lubang tanam antara 50 x 50 x 50 cm sampai 1 x 1 x 1 m. Tanah atas dan tanah bawah dipisahkan, masing-masing dicampur pupuk kandang sekurang-kurangnya 20 kg.  Setelah itu tanah dibiarkan selama ±  2 minggu, & menjelang tanam tanah galian dikembalikan sesuai asalnya.
3. Cara Penanaman
Penanaman apel dilakukan baik pada musim penghujan atau kemarau (di sawah). Untuk lahan tegal dianjurkan pada musim hujan. Cara penanaman bibit apel adalah sebagai berikut:
a. Masukan tanah bagian bawah bibit kedalam lubang tanam.
b. Masukan bibit ditengah lubang sambil diatar perakarannya agar menyebar.
c. Masukan tanah bagian atas dlm lubang sampai sebatas akar & ditambah tanah galian lubang.
d. Bila semua tanah telah masuk, tanah ditekan-tekan secara perlahan dengan tangan agar bibit tertanam kuat & lurus. utk menahan angin, bibit dapat ditahan pada ajir dgn ikatan longgar.
6.4.  Pemeliharaan Tanaman
1) Penjarangan & penyulaman
Penjarangan tanaman tdk dilakukan, sedangkan penyulaman dilakukan pada tanaman yg mati atau dimatikan kerena tdk menghasilkan dgn cara menanam tanaman baru menggantikan tanaman lama. Penyulaman sebaiknya dilakukan pada musim penghujan.
2)     Penyiangan
Penyiangan dilakukan hanya bila disekitar tanaman induk terdapat banyak gulma yang dianggap dpt mengganggu tanaman. Pada kebun yg ditanami apel dengan jarak tanam yg rapat (±  3x3 m), peniangan hampir tdk perlu dilakukan karena tajuk daun menutupi permukaan tanah sehingga rumput-rumput tidak dapat tumbuh.
3) Pembubunan
Penyiangan biasanya diikuti dgn pembubunan tanah. Pembubunan dimaksudkan utk meninggikan kembali tanah disekitar tanaman agar tidak tergenang air & juga utk menggemburkan tanah. Pembubunan biasanya dilakukan setelah panen atau bersamaan dgn pemupukan.
4) Perempalan/Pemangkasan
Bagian yg perlu dipangkas adalah bibit yg baru ditanam setinggi 80 cm, tunas yang tumbuh di bawah 60 cm, tunas-tunas ujung beberapa ruas dr pucuk, 4-6 mata & bekas tangkai buah, knop yg tdk subur, cabang yg berpenyakit dan tdk produkrif, cabang yg menyulitkan pelengkungan, ranting atau daun
yang menutupi buah. Pemangkasan dilakukan sejak umur 3 bulan sampai didapat bentuk yg diinginkan(4-5 tahun).
5) Pemupukan
a) Pada musim hujan/tanah sawah
1. Bersamaan rompes daun ( <  3 minggu). NPK (15-15-15) 1-2 kg/pohon atau campuran Urea, TSP, KCl/ZK ±  3 kg/pohon (4:2:1).
2. Melihat situasi buah, yaitu bila buah lebat (2,5-3 bulan setelah rompes. NPK (15-15-15) 1 kg/pohon atau campuran Urea, TSP & KCl/ZK ±  1 kg/pohon (1:2:1)
b) Musim kemarau/tanah tegal
1. Bersamaan rompes tdk diberi pupuk (tidak ada air).
2. 2-3 bulan setelah rompes (ada hujan). NPK (15-15-15) 1-2 kg/pohon atau campuran Urea, TSP, & KCl/ZK ±  3 kg/pohon (4:2:1).
Cara pemupukan disebar di sekeliling tanaman sedalam ±  20 cm sejauh lebar daun, lalu ditutup tanah & diairi. Untuk pupuk kandang cukup diberikan sekali setahun (2 x panen) 1-2 pikul setiap pohon pada musim kemarau setelah panen. Untuk meningkatkan pertumbuhan perlu diberikan pupuk daun & ZPT pada 5-7 hari sampai menjelang bunga setelah rompes (Gandasil B 1 gram/liter) + Atonik/Cepha 1 cc/liter diselingi dgn Metalik-Multi Mikro & 5-7 hari sekali sampai menjelang panen (2,5 bulan) dr rompes Gandasil D (1 gram/liter). Selain itu perlu digunakan zat pengatur tumbuh Dormex sekali setahun setelah rompes (jangan sampai 10 hari setelah rompes) sebanyak 2600 liter larutan dengan dosisi 3 liter/200 literair.
6) Pengairan & Penyiraman
Untuk pertumbuhannya, tanaman apel memerlukan pengairan yg memadai sepanjang musim. Pada musim penghujan, masalah kekurangan air tdk ditemui, tetapi harus diperhatikan jangan sampai tanaman terendam air. Krena itu perlu drainase yg baik. Sedangkan pada musim kemarau masalah kekurangan air harus diatasi dgn cara menyirami tanaman sekurang-kurangnya 2 minggu sekali dgn cara dikocor.
7) Penyemprotan Pestisida
Untuk pencegahan, penyemprotan dilakukan sebelum hama menyerang tanaman atau secara rutin 1-2 minggu sekali dgn dosis ringan. utk penanggulangan, penyemprotan dilakukan sedini mungkin dgn dosis tepat, agar hama dapat segera ditanggulangi. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pagi atau sore hari. Jenis & dosis pestisida yg digunakan dlm menanggulangi hama sangat beragam tergantung dgn hama yg dikendalikan & tingkat populasi hama tersebut, pengendalian secara lebih terinci akan dijelaskan pada poin hama dan penyakit.
8) Pemeliharaan Lain
a) Perompesan
Perompesan dilakukan utk mematahkan masa dorman didaerah sedang. Di darah tropis perompesan dilakukan utk menggantikan musim gugur di daerah iklim sedang baik secara manual oleh manusia (dengan tangan) 10 hari setelah panen maupun dgn menyemprotkan bahan kimia seperti Urea 10%+Ethrel 5000 ppm 1 minggu setelah panen 2 kali dgn selang satu minggu).
b) Pelengkungan cabang
Setelah dirompes dilakukan pelengkungan cabang utk meratakan tunas lateral dgn cara menarik ujung cabang dgn tali & diikatkan ke bawah. Tunas lateral yg rata akan memacu pertumbuhan tunas yg berarti mamacu terbentuknya buah.
c) Penjarangan buah
Penjarangan dilakukan utk meningkatkan kualitas buah yaitu besar seragam, kulit baik, & sehat, dilakukan dgn membuang buah yg tdk normal (terserang hama penyakit atau kecil-kecil). utk memdapatkan buah yg baik satu tunas hendaknya berisi 3-5 buah.
d) Pembelongsongan buah
Dilakukan 3 bulan sebelum panen dgn menggunakan kertas minyak berwarna putih sampai keabu-abuan/kecoklat-cokltan yg bawahnya berlubang. Tujuan buah terhindar dr serangan burung & kelelawar dan menjaga warna buah mulus.
e) Perbaikan kualitas warna buah
Peningkatan warna buah dpt dilakukan dgn bahan kimia Ethrel, Paklobutrazol, 2,4 D baik secara tunggal maupun kombinasi.
 

Continue lendo >>

SYARAT TUMBUH APEL

SYARAT TUMBUH APEL. Berikut adalah artikel yang terkait dengan syarat tumbuh apel.

SYARAT TUMBUH APEL

SYARAT TUMBUH APEL
SYARAT TUMBUH APEL
Iklim
1) Curah hujan yg ideal adalah 1.000-2.600 mm/tahun dgn hari hujan 110-150 hari/tahun. dlm setahun banyaknya bulan basah adalah 6-7 bulan & bulan kering 3-4 bulan. Curah hujan yg tinggi saat berbunga akan menyebabkan bunga gugur sehingga tdk dpt menjadi buah.
2) Tanaman apel membutuhkan cahaya matahari yg cukup antara 50-60% setiap harinya, terutama pada saat pembungaan.
3) Suhu yg sesuai berkisar antara 16-27 derajat C.
4) Kelembaban udara yg dikehendaki tanaman apel sekitar 75-85%.
Media Tanam
1) Tanaman apel tumbuh dgn baik pada tanah yg bersolum dalam, mempunyai lapisan organik tinggi, & struktur tanahnya remah & gembur, mempunyai aerasi, penyerapan air, & porositas baik, sehingga pertukaran oksigen, pergerakan hara & kemampuan menyimpanan airnya optimal.
2) Tanah yg cocok adalah Latosol, Andosol & Regosol.
3) Derajat keasaman tanah (pH) yg cocok utk tanaman apel adalah 6-7 dan kandungan air tanah yg dibutuhkan adalah air tersedia.
4) dlm pertumbuhannya tanaman apel membutuhkan kandungan air tanah yang cukup.
5) Kelerengan yg terlalu tajam akan menyulitkan perawatan tanaman, sehingga bila masih memungkinkan dibuat terasering maka tanah masih layak ditanami.
Ketinggian Tempat
Tanaman apel dpt tumbuh & berbuah baik pada ketinggian 700-1200 m dpl. dengan ketinggian optimal 1000-1200 m dpl.
 

Continue lendo >>

SENTRA PENANAMAN APEL

SENTRA PENANAMAN APEL. Berikut adalah artikel yang terkait dengan sentra penanaman apel.

Di Indonesia, apel dpt tumbuh & berbuah baik di daerah dataran tinggi. Sentra produksi apel di adalah Malang (Batu & Poncokusumo) & Pasuruan (Nongkojajar), Jatim.

SENTRA PENANAMAN APEL

SENTRA PENANAMAN APEL
SENTRA PENANAMAN APEL
Di daerah ini apel telah diusahakan sejak tahun 1950, dan berkembang  pesat pada tahun 1960 hingga saat ini. Selain itu daerah lain yang banyak dinanami apel adalah Jawa Timur (Kayumas-Situbondo, Banyuwangi), Jawa Tengah (Tawangmangu), Bali (Buleleng & Tabanan), Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur & Sulawesi Selatan. Sedangkan sentra penanaman dunia berada di Eropa, Amerika, & Australia.
 

Continue lendo >>

  ©Budidaya Desa - Todos os direitos reservados.

Template by Dicas Blogger | Sitemap